Mahalnya Kebersihan
Mahalnya Kebersihan Saya teringat akan sebuah kenangan ketika saya masih kelas satu SMA. Saat itu saya menemukan seorang kakak kelas sedang menyapu halaman depan masjid sekolah. Seorang kakak kelas yang tidak saya ketahui namanya itu baru saja menyelesaikan studi SMA-nya. Beberapa hari yang lalu, ia baru saja menyelesaikan UAN. Hal ini menjadi alasan bagi saya untuk berpikir bahwa beliau bukanlah pengurus masjid, dan itu berarti secara tanggung jawab organisasi dia tidak punya kewajiban untuk piket masjid. Saya yang saat itu sedang berjalan hendak pulang, termangu menatap kakak kelas saya yang sedang menyapu itu. Sambil berkata dalam hati, “Duh euy, dadaekanan eta si teteh sasapu sorangan!”1 Kalau saya lihat sekitar masjid, pada saat itu memang hanya si teteh yang menyapu halaman. Setelah saya memperhatikan sekeliling masjid, saya berpikir lagi, “Ari rerencangana kamarana? Meni teu aya nu ngabantosan.”2 Seketika itu saya juga merasa iba sekaligus kagum melihatnya. Selain si te...